Skip to main content

(Prosa) teruntuk lelaki yang berjuang bersamaku


Aku memang bukanlah wanita yang sempurna, bukan berasal dari keluarga berada, wajahku juga tak secantik artis Korea. Tadinya, aku tak pernah memikirkan perkara cinta. Buat perempuan sepertiku, perkara cinta hanya buang-buang waktu saja. Lebih baik, aku memikirkan karier dan kesuksesan di masa depan. Aku tak pernah ambil pusing untuk urusan asmara. Toh, jodoh dan mati sudah ada yang mengatur, kenapa manusia harus repot? Yang aku pikirkan hanya jika nanti aku berhasil, maka keluargaku pun akan bahagia. Itu saja.
Kau pun hadir saat itu agar perjuangan ku mulai terasa ringan. Terima kasih karena memilih wanita sepertiku, menerima semua kekurangan dalam diriku, yang tak mungkin bisa kusebutkan satu per satu. Aku sangat menghargai ketulusanmu, cintamu, dan pengorbananmu. Setiap aku membutuhkanmu, kau pun selalu ada di sampingku. 
Namun, terkadang hatiku terluka saat aku mengingat masa laluku. Kuhabiskan masa mudaku untuk berjuang demi cita - cita yang ingin ku gapai. Kemudian, aku menangis saat harus menerima kenyataan bahwa aku  takut masa lalu ini yang menjadi alasan suatu saat nanti kita berpisah. Tentu saja aku tak pernah memikirkan betapa menderitanya jodohku nanti jika mengetahui keburukan-keburukan yang pernah ada di dalam diriku. Mungkin juga jodohku itu kamu.
Aku pun protes kepada Tuhan atas ketidakadilan yang harus kujalani ini. “Tuhan, Kau bilang akan memberiku jodoh yang seperti diriku, cerminanku. Tapi dia terlalu sempurna untukku. Kenapa Engkau justru mengirim lelaki yang sangat jauh dari cerminan diriku. Saat ini aku wanita mandiri, punya karier bagus, semua memang terlihat bagus dari luarnya tapi didalamnya hancur oleh masa lalu. Begitu banyak pria baik-baik yang sudah kutolak, lalu kenapa justru dia yang bisa menerima semua kekurangan aku? Harusnya dia bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku Tuhan”.
Lalu, saat berdiri di depan cermin. aku melihat bayangan dirimu. Tak terlihat kebohongan di matamu. Pandanganmu seakan-akan berkata, “Terima kasih, sudah berjuang bersamaku. Kau tau aku sangat membenci masa lalumu. Jadi, kumohon untuk tidak mengungkit lagi semua masa lalumu. Biar orang lain berkata aku gila memilih perempuan yang penyakitan sebagai masa depanku. Tapi aku mengenalmu, aku tau itu bukan kesalahanmu. Tenanglah aku sudah memilihmu untuk berjuang bersamaku."

Aku begitu bodoh tak dapat melihat ketulusan yang ada dalam dirimu, dan sungguh aku tak mau kehilangan ketulusan dari orang yang benar-benar mencintaiku apa adanya. Percayalah, aku sangat menyesalinya. Beri aku kesempatan untuk berubah. Tinggallah bersama masa depanku. Tolong, tetaplah bersamaku, seberat apa pun itu.
Hatiku serasa dihantam petir. Namun, kuputuskan untuk berjuang lagi. Jika dulu aku berjuang seorang diri, sekarang aku berjuang bersamamu. Aku korbankan sedikit mimpiku untuk impian kita. Aku tau cermin tak pernah bohong, sama sepertimu yang tulus mencintaiku. Aku tau kau sangat ingin mengubah hidupku yang kelabu menjadi terang bersamamu. Rasa sakit dan penyesalan terhadap masa lalu tentu jauh lebih berat dari kekecewaan yang pernah kutuduhkan pada Tuhan. Betapa jahatnya aku, jika aku meninggalkanmu hanya karena keputusan bodoh yang aku buat sendiri. Biarlah masa lalu menjadi cerita yang tak perlu ditulis dalam ingatan.
Tuhan, maafkan diriku yang pernah menganggap-Mu tak adil. Terima kasih telah menyadarkanku dari kesombongan, keangkuhan, dan keegoisan yang bersemayam dalam diriku. Terima kasih telah memberiku kesempatan mencintai dan dicintai. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk berjuang bersama orang yang kusayangi. Maafkan diriku yang selalu mengeluh kepada-Mu. Aku tahu Engkau memiliki rencana luar biasa. Andai dia tidak memilihku, mungkin saat ini aku sudah terluka karena lelaki sempurna lainnya.
Buatmu yang sedang bersamaku, kau mungkin bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih sempurna. Namun, tak banyak yang bersedia mengenyahkan ego, impian, dan kesenangannya untuk sekadar melangkah dari muara sungai ke puncak gunung. Belum lagi, jika jalan yang dilalui adalah jalan terjal dan penuh kerikil tajam.
Kau tau, Tuhan memberi lintasan yang bernama “kita”? Dengan begitu untuk mencapai puncak tertinggi, kau dan aku harus melaluinya berdua. Aku akan menjadi kakimu jika kau lelah, aku akan menjadi matamu jika kau tak mampu melihat, aku akan menjadi telingamu saat kau tak mampu mendengar. Kuberikan pundakku sebagai tempatmu bersandar. Kuberikan hatiku sebagai tempatmu berteduh. Namun, jika kau berbelok atau menyerah di tengah perjalanan ini, aku tak berjanji akan menemanimu berjalan lagi.

Jakarta,
Angel Sibarani

Comments

Popular posts from this blog

Ternyata kau bukan untukku

Jauh darimu aku hanya sebuah angan Berada dihadapanmu jadi sebuah bayang Tak berarti apa-apa Tak guna apa-apa Aku bahagia saat jenuhku bersamamu Meski kau acuh atas rasa itu Aku tau, mengerti, dan juga paham Hatimu hanya untuk yang kau beri senyum Bahkan waktuku tak mampu menggantinya Tak bisa sedetikpun memalingkanmu darinya Sekarang aku sadar Ragamu selalu bersama dan menemaniku Namun hati dan pikiranmu terpaut padanya Tapi tenanglah Itu tak membuatku meninggalkanmu Akan kusimpan baik-baik rasa ini Akan kubuatkan ruang tersendiri dihatiku Akan aku lepas kamu Namun akan kujaga kamu dari kejauhan Karena aku tak mau mengurungmu dalam kemunafikan Jakarta, Angel sibarani

(Prosa) Penantian tanpa kepastian

Kucoba kuatkan hati, mesti tiada harapan pasti yang engkau berikan. Kucuba bersabar menahan gejolak di dada, meski sering kali engkau memilih diam. Karena sulit bagiku untuk melupakanmu dan jiwaku hanya tentram ketika menyebut namamu, bukan yang lain. Sempat juga aku berpikir untuk menanyakan sebuah kepastian, “apakah masih ada harapan untukku memilikimu seutuhnya?” Namun, aku tak sanggup menderamu dengan pertanyaan berat ini. Aku tak ingin hadirkan beban dalam hatimu sehingga engkau tak bisa konsentrasi dalam duniamu. Kutahan gelisah, meski wajahmu seringkali datang menghampiri jiwa. Kukuatkan kesabaran dalam penantian tanpa kepastian. Cukuplah dirimu di hatiku saat ini, karena engkaulah yang hadirkan ketenangan. Bukan yang lain, yang seringkali lewat ucapan dan pintanya mendera pikiranku. Mereka menghampiriku, kemudian membunuhku perlahan. Beda dengan dirimu, sapaanmu telah hadirkan berjuta inspirasi. Senyummu kobarkan semangat membara. Tanpa harus berkamuflase dengan kata-k...