Skip to main content

Ketika ku tak mampu bertahan




Mencintaimu...
Menyayangimu...
Apa harus sesakit ini?

Jika memang sesakit ini
Maafkan aku!
Maafkan aku, yang tak sanggup lagi bertahan

Kini ku hempas kenanganmu
Kini ku lupakan bayanganmu
Kini ku buang satu persatu harapanku padamu
Jangan tanya mengapa padaku
Hingga di harapan terakhir kau akan menemukan jawabannya

Ku harap saat kau akan mengerti dan memahaminya
Jika pada harapan terakhir,


Kau tak temukan jawaban atas semua sikapku

Maka dengan tersenyum aku akan tetap melangkah
Dan berkata pada hati tetap untuk menguatkanku
Bahwa tak selamanya harapan jadi kenyataan
Ada kalanya harapan membuatmu kecewa
Dan menggoreskan luka dihatimu

Disini, ketika aku meneteskan air mata
Bukan karena aku kehilanganmu

Hanya saja,
Aku LUPA cara TERSENYUM ketika sedang berusaha MELUPAKAN

Terima kasih telah mengizinkanku


Untuk masuk kedalam hidupmu yang indah
Mungkin kebersamaan kita bukan waktu sebentar
Tapi ternyata tetap aku tak bisa bertahan



Saat bersamammu adalah waktu terindah dalam hidupku
Semoga kamu selalu dalam lingkaran KEBAHAGIAAN



Senang bisa mengenal kamu,
Selamat Tinggal. . . . . . . . . . . . . . .

Jakarta,
Angel Sibarani

Comments

Popular posts from this blog

Sebuah Drama Topeng Pendusta

Pernahkah kau berpikir tentang aku? Apa kau peduli pada perasaanku? Apakah kau anggap aku ada? Atau bagimu aku hanya mainan? Tidakkah kau mendengar jeritan hatiku? Padahal pintaku hanya sedikit, tidak lebih Tolong dengarlah sekali saja, tak perlu lebih Mungkin di matamu aku terlihat tegar Tapi kau telah salah besar menilaiku Belahan lain diriku juga bisa menangis pilu Bahkan separuhnya meminta untuk rebah Dan kau semakin menjadi-jadi menyiksaku Kau seperti si dungu berwajah lugu Kau menikmati setiap inci goresan luka ini Hai lihatlah, aku merintih dalam ringai! Aku tersenyum dalam luka! Dan aku tertawa dalam kepalsuan! Semua seperti sebuah kebohongan besar Hingga muak menjadi satu dengan lelah Aku lelah harus berpura-pura tabah Aku lelah harus selalu tersenyum palsu Bahkan diam-diam aku mengaung tangis Drama ini benar-benar membuatku muak Aku benci kenajisan yang kau ciptakan Lalu kau suguhkan pada penikmat dusta Kapan aku bisa tersenyum saat bahagia? ...

Andai Kamu Jadi Aku

Ku tulis ini saat mataku tak lagi menangis Ku tulis ini saat mulutku tak lagi berkeluh Aku mengingatmu sebagai yang sempat hadir Meskipun aku tak pernah tinggal dihatimu Seandainya kau mengerti perasaanku Mungkin kau memilihku sebagai tujuan Tapi, aku hanya sebuah persinggahan Tempatmu meletakan segala kecemasan Lalu pergi tanpa janji untuk pulang padaku Ku berikan penuh perhatianku untukmu Tapi semua seakan tak kau gubris Aku ada disampingmu, Tapi getaran itu seakan tak kau rasakan Aku berada didekatmu, Namun perhatianku seperti kau abaikan Setiap detik dan waktu yang bergulir Aku menganggap semua telah berakhir Aku tak boleh lagi berharap terlalu jauh Aku membayangkan perasaanku hilang Aku memimpikan lukaku segera kering Namun sampai kapan aku terus mencoba? Seandainya kau bisa membaca perasaanku Dan kamu bisa mengetahui isi otakku Mungkin hatimu yang beku akan mencair Aku tak pernah tau apa salahku Kita yang baru saja kenal, B...

Ternyata kau bukan untukku

Jauh darimu aku hanya sebuah angan Berada dihadapanmu jadi sebuah bayang Tak berarti apa-apa Tak guna apa-apa Aku bahagia saat jenuhku bersamamu Meski kau acuh atas rasa itu Aku tau, mengerti, dan juga paham Hatimu hanya untuk yang kau beri senyum Bahkan waktuku tak mampu menggantinya Tak bisa sedetikpun memalingkanmu darinya Sekarang aku sadar Ragamu selalu bersama dan menemaniku Namun hati dan pikiranmu terpaut padanya Tapi tenanglah Itu tak membuatku meninggalkanmu Akan kusimpan baik-baik rasa ini Akan kubuatkan ruang tersendiri dihatiku Akan aku lepas kamu Namun akan kujaga kamu dari kejauhan Karena aku tak mau mengurungmu dalam kemunafikan Jakarta, Angel sibarani